Logo dar Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman

Indonesia Posisikan Diri sebagai Eksportir Pangan Global dan Mitra Industri di KTT BRICS

  • News

Presiden Prabowo Subianto memaparkan prioritas Indonesia di bidang ketahanan pangan, kerja sama industri, dan pembangunan berketahanan iklim dalam KTT BRICS ke-18 di New Delhi. Ia juga mendorong penguatan kerja sama antarnegara anggota dalam pengembangan rantai pasok, industrialisasi, dan investasi.

News Indonesia Positions as Global Food Exporter and Industrial Partner at BRICS Summit

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan visi transformasi ekonomi Indonesia dan penguatan kerja sama global dalam KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India. Berbicara di hadapan para pemimpin dunia di Bharat Mandapam, Prabowo menyoroti perubahan posisi Indonesia dari negara pengimpor produk pertanian menjadi eksportir, sekaligus mengusulkan kerja sama industri untuk memperkuat rantai pasok internasional.

Dari importir menuju pendukung ketahanan pangan global

Prabowo menyoroti peningkatan produksi pertanian nasional dan menyatakan bahwa Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam mendukung kebutuhan pangan global.

 

“Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir utama biji-bijian, beras, dan jagung. Sekarang, kami telah menjadi eksportir dan akan mampu meningkatkan dukungan kami bagi negara-negara lain,” kata Prabowo, seperti dikutip Antara News.

 

Menurutnya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa strategi pembangunan nasional dapat membantu mengatasi berbagai keterbatasan struktural. Negara berkembang juga memiliki potensi serupa apabila kapasitas yang dimiliki dapat dihubungkan dan dimanfaatkan secara optimal.

Dorong industrialisasi bersama

Selain sektor pertanian, Prabowo mendorong negara-negara BRICS untuk memperkuat kerja sama dalam industrialisasi dan peningkatan nilai tambah.

 

“Izinkan saya mengusulkan sesuatu yang konkret. Mari kita bersama-sama mendorong industrialisasi dan mengoptimalkan sumber daya serta kapasitas yang kita miliki,” kata Prabowo, seperti dipublikasikan prabowosubianto.com.

 

Ia mengatakan negara-negara anggota BRICS memiliki kekuatan yang saling melengkapi, mulai dari sumber daya alam, kapasitas manufaktur, kemampuan teknologi, hingga pasar konsumen yang besar.

 

“Pada dasarnya BRICS sudah memiliki rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya agar kekuatan yang kita miliki dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar,” kata Prabowo, seperti dikutip Antara News.

Menghubungkan ketahanan iklim dan pembangunan ekonomi

Prabowo juga menyoroti hubungan antara ketahanan iklim dan perencanaan pembangunan ekonomi. Ia menyebut posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik membuat negara ini menghadapi berbagai risiko bencana, termasuk kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas vulkanik.

 

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan, cadangan mineral kritis dan unsur tanah jarang, serta kawasan hutan yang luas.

 

“Kita harus mengakui keterkaitan antara ketahanan iklim dan pembangunan nasional,” kata Prabowo, seperti dipublikasikan prabowosubianto.com. Menurutnya, negara-negara anggota BRICS memiliki berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi bersih secara global.

 

“Bersama-sama, kita dapat mengubah berbagai tantangan yang saling berkaitan ini menjadi peluang untuk meningkatkan investasi, memperkuat industri, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan membuka peluang yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Prabowo, seperti dikutip Antara News.

Ketahanan ekonomi dan pertumbuhan inklusif

KTT BRICS ke-18 mengangkat empat pilar utama, yaitu ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Antara News melaporkan bahwa pembahasan mencakup upaya mengurangi gangguan rantai pasok, mendorong pembangunan industri berkelanjutan, serta mendukung stabilitas ekonomi negara-negara Global South.

 

Prabowo juga menekankan pentingnya pertumbuhan inklusif yang didorong oleh inovasi agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di negara-negara berkembang.

Dalam kategori:

Baca berita terbaru

Lihat semua Berita
  • News AHK Indonesia/EKONID’s Online Legal Roundtable 2026
    Berita

    AHK Indonesia/EKONID’s Online Legal Roundtable 2026 - Government Procurement in Indonesia: Requirements, Mechanisms, and Strategic Approaches

    On Tuesday, 15 September 2026, EKONID hosted the online roundtable “Government Procurement in Indonesia: Requirements, Mechanisms, and Strategic Approaches” via Microsoft Teams. The session gave EKONID members an overview of Indonesia’s government procurement framework and the requirements companies should consider when entering the public procurement market.

  • News President Prabowo Appoints Suahasil Nazara as Indonesia’s New Finance Minister
    Berita

    Presiden Prabowo Tunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Baru

    Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan, menegaskan komitmennya untuk menjaga disiplin fiskal, kredibilitas APBN, serta melanjutkan arah kebijakan Kementerian Keuangan.

  • News Indonesia Moves to Simplify Foreign Worker Permits for Investors
    Berita

    Indonesia Sederhanakan Proses Perizinan Tenaga Kerja Asing untuk Kegiatan Investasi

    Indonesia akan mengintegrasikan layanan perizinan tenaga kerja asing melalui sistem Online Single Submission (OSS), mencakup proses ketenagakerjaan dan keimigrasian bagi tenaga kerja asing yang terkait dengan kegiatan investasi. Pemerintah menargetkan implementasi layanan terintegrasi ini mulai akhir September 2026.

Mencari sesuatu yang lain?

Di pusat informasi kami, Anda dapat menemukan berita terkini, unduhan, video, podcast.

Pergi ke Pusat Informasi