Indonesia bersiap membuka tahap pertama tender proyek tenaga surya berkapasitas 30 gigawatt (GW) pada 2026. Tender ini menjadi bagian dari program pengembangan tenaga surya nasional dengan target total 100 GW.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana tersebut pada 19 Agustus, setelah pemerintah membahas proses pengadaannya bersama PT PLN. “Tahun ini, kita akan memulai tahap pertama sebesar 30 GW,” kata Bahlil, seperti dikutip ANTARA.
Target tersebut sebelumnya kembali disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus. Pemerintah menargetkan pengembangan 30 GW tenaga surya pada 2026, sejalan dengan rencana untuk secara bertahap mengurangi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Skala program 100 GW ini jauh lebih besar dibandingkan rencana pengembangan tenaga surya yang saat ini tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Dalam RUPTL tersebut, tambahan kapasitas tenaga surya ditetapkan sebesar 17,1 GW hingga 2034. Pemerintah pun tengah menyiapkan regulasi, lahan, dan skema investasi tambahan untuk mendukung percepatan program.
Pemerintah sebelumnya juga menyebut keterlibatan investor asing sebagai bagian dari pengembangan program 100 GW. Pada September 2025, Bahlil mengatakan kapasitas produksi panel surya dalam negeri masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan program, sehingga investasi dari luar negeri tetap dibutuhkan. Investor asing, menurutnya, dapat bekerja sama dengan perusahaan swasta Indonesia, BUMN, maupun PLN.
Program ini juga telah diperkenalkan kepada investor internasional. Pada Juli 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengundang perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi dalam program tenaga surya 100 GW saat melakukan pertemuan di Shanghai. Di saat yang sama, pemerintah juga mendorong keterlibatan perusahaan nasional dan penguatan industri manufaktur surya di dalam negeri.
Secara terpisah, PLN telah memulai pengadaan proyek tenaga surya melalui model GIGA ONE. Pada April, PLN meluncurkan tender Mentari Nusantara I dengan total kapasitas 1,225 GW yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Papua. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.